Jejak 2,5 bulan di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

 Halo, bagaimana kabar pembaca?

"Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin oleh Tuhan YME"

ucapan adalah sebuah do'a, dan semoga dengan membaca kalimat sebelum ini do'a kita didengar oleh Tuhan YME. 

Ingin rasanya menuliskan sebuah pembuka yang agak puitis dan bergaya ala penulis hebat, namun apa mau dikata, saya belum pandai merangkai kata. 

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman yang saya rindukan hingga saat ini. 

Berlatar belakang sebuah tugas kuliah namun meninggalkan kesan yang ingin saya lakukan lagi.

Magang kerja. 

Rezeki Tuhan memang sangatlah luar biasa. Satu semester sebelum mata kuliah magang kerja dipelajari, saya melihat lowongan di Instagram. 

Kementerian Luar Negeri RI membuka kesempatan untuk magang kerja bagi para mahasiswa/i.

Saya langsung mencari tahu informasi lebih lanjut dengan membuka website www.kemlu.go.id dan menghubungi informasi kontak untuk mendapatkan informasi yang lebih jelasnya lagi lewat telepon (deg-degan rasanya). 

Tanpa pikir panjang saya mulai menuliskan sebuah surat lamaran kerja, menyiapkan berkas persyaratan seperti CV, pas foto, surat keterangan dari kampus lalu dimasukkan ke dalam amplop coklat. Setelah semua berkas lengkap langsunglah saya menuju kantor Pos Indonesia di dekat rumah. Dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 8.000,00-, berkas lamaran pun dikirimkan dengan estimasi 5-7 hari katanya. 

Lanjut dengan kegiatan kuliah seperti biasa sambil menunggu saya juga mencoba lamar magang ke beberapa perusahaan.

Selang kurang lebih 2-3 bulan (kalau seingat saya) pada hari Jumat di akhir bulan Agustus 2018 di pagi hari sekitar jam 10:00 WIB hp saya berbunyi, layar menunjukka  sebuah nomor kantor. Saya angkat.

"Halo, Assalamualaikum selamat pagi" sapa saya dengan suara masih agak mengantuk hoho. 

"Iya selamat pagi, betul dengan Astriani Laily Ramadhani?" tanya orang di seberang telepon.

"Iya betul" 

dan kemudian percakapan berlanjut. 

"Kamu kok lucu banget, surat lamarannya pake tulis tangan" kata bapak, si penelpon.

"Heheh iya pak, emang biasanya ditulis tangan kan surat lamarannya itu?" saya masih agak bingung, apakah saya terlalu kuno karna masih menggunakan cara tradisional.

"Hahah gapapa sih. Ya sudah besok hari Senin datang ke kantor ya"

"Oh baik pak, ini buat wawancara dulu kan pak? Untuk pakaiannya gimana pak? Apa saja yang perlu saya bawa? Untuk waktunya pak?" tanya saya antusias.

"Iya, pakai atasan batik bawahan hitam, sepatu tertutup. Bawa diri saja dan datang ke gedung utama, naik ke lantai 10 bertemu dengan saya Pak Putu dari Ditjen IDP jam 9 atau jam 10 lah"

Untuk memastikan saya ulangi semua instruksi beliau. Untuk menghindari salah tangkap informasi. 

Waaahhh bahagia bukan main. Saya langsung beri tahu Ibu dan kakak saya. Saya meminta kakak saya untuk mengantarkan saya besoknya untuk mensurvey lokasinya. Agar lebih persiapan lagi harus berangkat jam berapa, naik angkutan dan kendaraan apa, butuh berapa lama perjalanannya, untuk menghindari keterlambatan dan salah tempat. 

Hingga hari Senin pun tiba, untungnya saya tidak salah lokasi, melainkan salah gedung hoho. Karna memang saya belum pernah memasuki kawasan pemerintahan seperti Kemlu dengan penjagaan ketat, dan halaman yang luas. 

"Wah salah gedung mba, ke gedung utama setelah Gedung Pancasila, dari sini keluar, belok kanan, lewatin Gedung Pancasila terus belok kanan nah masuk deh"

Haduh malunya. 

Saya masuk ke gedung langsung menuju meja resepsionis, menyerahkan KTP, mengatakan tujuan ketemu dengan Pak Putu dan Ditjen IDP. Kemudian saya dikasih sebuah kartu bertuliskan "visitor" kemudian menunggu beberapa menit dengan peserta magang yang lain. 

Akhirnya sesosok pria tapi bukan memakai baju batik, lebih tepatnya seperti seorang Office Boy atau staff menghampiri kami.

Kemudian langsung mengantarkan kita ke lantai 10, membawa kami ke sebuah ruangan dengan meja panjang yang sudah ditempati beberapa orang juga yang kelihatannya sepantaran dengan saya. 

Selang beberapa lama, dua orang laki-laki yang satu berkacamata berbadan tinggi besar sekitar umur 30-40 tahunan(1) dan satu lagi berbadan agak lebih kecil dengan baju batik dan beberapa rambut putih yang sudah menampakkan usia sekitar 50 tahunan mungkin(2). 

Saya dan teman-teman magang akhirnya berkenalan dengan Pak John(1) dan Pak Putu(2).

Melakukan briefing, memastikan masing-masing Ditjen tempat bagian kami akan bekerja. Karna waktu itu kelamaan nunggu, sampai saya lupa saya melamar di ditjen apa hehe. 

Untunglah ada catatannya disana, dan ternyata saya melamar di Sekretariat Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, pada Direktorat Jenderal Informasi dan Media.

Saya dan dua orang perempuan peserta magang juga akhirnya bertemu dengan Mas Stiffan, beliau membagi kami ke subdit mana kita akan bekerja. 

Awalnya Mas Stiffan bertanya, apakah di antara kami ada yang bisa mengoperasikan kamera dan mengambil gambar maupun video. 

Saya dengan sukarela mengangkat tangan. Saya bilang bahwa saya bisa mengoperasikan kamera, dan saya juga terbiasa dengan mengambil gambar (foto) dan video untuk tugas kuliah dengan bermodal kamera Cannon 1200D. Akhirnya saya masuk ke subdit Audio Visual. Sedangkan dua orang teman saya tadi yang satu masuk ke Subdirektorat Pelayanan Media (YanMed) dan yang satu lagi masuk ke Subdirektorat Multimedia.

Oh iya, saya kira hari itu adalah hari untuk sekedar wawancara saja tetapi ternyata tidak ada wawancara formal yang biasa dilakukan saat proses rekruitmen. Bahkan ternyata pada hari Senin tanggal 3 September 2018 merupakan hari pertama saya sebagai pekerja magang di Kemlu. 

Awal datang saya pakai sepatu kets warna biru, tapi untungnya saya membawa sepatu pantofel hitam berwedges 5 cm. Karna sewaktu ditelfon hanya diberitahu sepatu tertutup saja. Namun dengan segala persiapan saya membawa 2 pasang sepatu dan benar saja seperti dugaan saya hehe.

Maklum baru pertama kali seperti ini. 

Di hari pertama saya bertemu dengan Pak Rudy, selaku mentor dan supervisor saya. Orang yang jenaka, penyuka musik, mantan anak band (katanya) dan sebagai fotografer di Kemlu. 

Di hari pertama belum ada pekerjaan yang bisa dilakukan, saya lebih banyak mengobrol dan bertanya tentang jobdesc pekerjaan yang akan saya dapatkan nantinya dengan Pak Rudi. 

Barulah setelah hari-hari berikutnya saya ditugaskan untuk membantu Pak Rudy dalam mengambil dokumentasi berupa foto dalam berbagai kegiatan di Kemlu. 

Berikut ini adalah beberapa jejak dan hasil saya magang kerja di Kemlu.

Acara Kemlu Bersama ICRC Berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta



Penyerahan 3 ABK WNI Korban Sandera Kelompok Abu Sayyaf di Filipina dari Wamenlu ke Keluarga.

Kegiatan Peluncura Buku "Potret Inspirasi dari Timur" di Kantin Diplomasi, Jakarta

Kegiatan MoU RI dengan Palestina di Gedung Pancasila


Acara Bilateral RI dengan Arab Saudi di Ruang Nusantara

Poto Bersana Wamenlu dengan Anggota The ASEAN Youth Interfaith Camp di depan Gedung Pancasila
Acara United Nations Day 2018 di Museum Nasional, Jakarta

Itu dia hasil dari pekerjaan saya selama magang, mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Kemlu seperti Bilateral/MoU, acara internal, dan juga ada pers briefing.

Selain mendokumentasikan kegiatan, kalau tidak ada acara di Kemlu pastinya saya akan membantu dibagian divisi lain seperti membantu mengedit video, membantu menyortir berita di divisi Berita, membantu mensortir data jurnalis di divisi YanMed dan sebagainya. 

Kesan yang saya ingin ceritakan adalah, bekerja di Kementerian Luar Negeri cukup santai,dan menurut saya, saya beruntung bergabung dalam Subdit Audio Visual yang dimana pada saat saya magang banyak kegiatan yang tengah berlangsung, jadi saya cukup sibuk untuk membantu mendokumentasikan kegiatan-kegiatan tersebut. 
Dan diantara teman-teman magang saya, saya yang paling sering tidak ada di meja kerja alias sering keluar untuk mendokumentasikan kegiatan. Dan saya juga beruntung bisa sering bertemu dengan Ibu Menlu dan Pak Wamenlu dan bisa ke ruang kerja bu Menlu. Hohoho

Oh iya, walaupun di Kemlu tidak memberikan kita uang gaji, namun dijamin kenyang disana hoho. Apalagi pas ada Pers Briefing yang pastinya selalu menyediakan makan siang yang diperuntukkan untuk teman-teman media dan yang meliput. Dan juga kalau ada ASN apalagi kepala subdit dan bapak Ditjen berulang tahun pasti mereka mengadakan buffet kecil-kecilan untuk bisa dinikmati bersama. Dan satu lagi, kalau ada ASN/Diplomat yang ditugaskan ke luar negeri tentunya sepulangnya mereka daari sana mereka selalu bawa oleh-oleh dari negara yang mereka kunjungi dan kita kebagian icip-icip makanan dari luar negeri deh hohoho.

Saya juga bisa berteman dan berbagi cerita dengan para wartawan/teman-teman media. 
Awalnya saya juga tidak tahu apa itu MoU/bilateral, dan kegiatan-kegiatan di instansi pemerintahan. Namun, setelah saya magang di Kemlu saya jadi banyak tahu, lebih aware dengan berita-berita atau isu-isu yang sedang terjadi di luar negeri dan kadang tahu berita ter-up-to-date dari hasil secara sengaja tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan teman-teman media hohoh.

Sekian cerita saya tentang pengalaman magang kerja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu) semoga dengan adanya tulisan ini bisa membantu teman-teman yang ingin magang di Kemlu. Oh iya cerita ini sebelum pandemi terjadi ya, jadi bisa saja ada perubahan atau kejadian yang tidak sama dengan cerita saya jika magang kerja di tengah pandemi saat ini, dan teman-teman bisa juga berbagi cerita pengalamannya di kolom komentar. 😉


Silakan liat-liat tulisan saya yang lainnya ya!!!

Comments

Popular Posts